
Pontianak Post merupakan salah satu surat kabar yang sangat berpengaruh di Provinsi Kalimantan Barat pada periode sebelum banyak Koran media cetak digantikan oleh media cetak online pada era sebelum tahun 2010. Beritanya ditunggu dan jadi kebijakan bagi Para Pejabat Di Provinsi Kalimantan Barat untuk pertimbangan kebijakan politik dan juga para pelaku ekonomi dan dunia usaha sebagai rujukan berita ekonomi daerah dan juga sarana informasi berita hiburan dan olahraga lokal
Koran ini pertama kali terbit pada 2 Februari 1973 di masa masa puncak masih berjayanya Pemerintahan Orde Baru Presiden Suharto dengan Nama Harian Akcaya, didirikan oleh Tabrani Hadi, seorang pegawai Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Barat dan tokoh pers lokal di Pontianak
Nama Akcaya diambil dari berasal dari bahasa Sansekerta atau India Kuno yang berarti “Tak Kunjung Binasa”, melambangkan sifat pantang menyerah dan keuletan rakyat Kalimantan Barat dalam melaksanakan revolusi. Kata ini menjadi semboyan dalam lambang Provinsi Kalimantan Barat, menggambarkan tekad abadi yang mencerminkan karakter daerah tersebut.
Masa itu perkembangan media pers di Kalimantan Barat masih sangat terbatas, di Era 1970 an Surat Kabar yang ada hanya terbit sebulan sekali bahkan ada yang tiga bulan sekali sehingga akses berita dan informasi masih terbatas publikasinya ke masyarakat luas, Berkat dukungan Gubernur Provinsi Kalimantan Barat , Kadarusno yang menjabat pada tahun 1972 sd 1977 yang peduli pada dunia pers, disediakanlah fasilitas seperti ruang pers dan mesin tik bagi wartawan di Kantor Gubernur saat itu
Berkat dorongan Gubernur Kadarusno, Tabrani Hadi mendirikan surat kabar harian yang mampu menyajikan berita setiap hari kepada Masyarakat Kalimantan Barat. Bekerjasama dengan beberapa tokoh pers seperti Agusno Sumantri, Bey Akoub dan sejumlah wartawan lainnya . Koran ini akhirnya terbit perdana dengan menggunakan kertas stensil
Pada Tahun 1974 dibentuk Yayasan Akcaya Pers yang menjadi lembaga resmi yang menaungi surat kabar Akcaya, Memasuki akhir 1980 an pesatnya perkembangan teknologi informasi mendorong Harian Akcaya untuk melakukan modernisasi dengan penggunaan Komputer dan Mesin Cetak Berwarna
Pada 24 Januari 1990 Harian Akcaya menjalin kerjasama dengan Jawa Pos Group yang saat itu dipimpin oleh Dahlan Iskan mencakup peningkatan dan pelatihan sumber daya manusia , pengelolaan manajemen serta distribusi berita nasional dan internasional.
Untuk mendukung hal tersebut didirikan dua perusahaan PT Akcaya Utama Pers sebagai Penerbit dan PT. Akcaya Utama Pariwara sebagai percetakan. Pada Tahun 1992 Harian Akcaya menempati Gedung Baru di Jalan Gajah Mada Pontianak. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman pada tahun1998 nama Harian Akcaya diubah Nama Menjadi Akcaya Pontianak Post. Sehingga akhirnya nama Akcaya resmi dihilangkan pada terbitan Februari 2002 menjadi Pontianak Post
Jumlah Pembaca Pontianak Post pada masa jayanya di awal 2000 bisa mencapai lebih dari 5 juta pembaca di Provinsi Kalimantan Barat hingga perubahan zaman yang ditandai dengan era android, pesatnya media online dan perubahan pola kebiasaan pembaca dari kertas Koran menjadi e paper atau Koran elektronik yang bisa dibuka dilaptop maupun Smart Phone.
Penurunan jumlah pembaca koran cetak, termasuk Pontianak Post, merupakan bagian dari fenomena global dan nasional yang dipicu oleh disrupsi digital. Meskipun Pontianak Post masih bertahan sebagai media rujukan di Kalimantan Barat, media ini menghadapi tantangan serius akibat beralihnya kebiasaan pembaca ke platform digital.
- Penyebab Utama Penurunan:
- Pergeseran ke Digital: Pembaca, khususnya generasi muda, lebih memilih informasi cepat dari media sosial dan situs berita online, mengurangi minat pada surat kabar cetak.
- Faktor Usia dan Kebiasaan: Penurunan minat baca secara umum dan beralihnya konsumsi berita ke format video atau media sosial.
- Faktor Ekonomis: Biaya produksi dan distribusi cetak yang tinggi berbanding terbalik dengan penurunan minat beli koran fisik.
- Adaptasi Pontianak Post (Transformasi Digital):
- E-Paper dan Media Sosial: Pontianak Post aktif mendorong pembaca ke versi digital, seperti Instagram (@pontianakpost) dan layanan koran digital/e-paper untuk tetap relevan.
- Transformasi dari Cetak ke Online: Direktur Utama Pontianak Post, Salman Busrah, menekankan perlunya inovasi dari era cetak manual ke digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
- Media Sosial: Selain website utama, mereka juga menggunakan media sosial untuk mendistribusikan berita secara real-time, seperti yang terlihat pada aktifnya unggahan @pontianakpost.
- Upaya Tetap Eksis:
- Meskipun penjualan cetak menurun, Pontianak Post berusaha tetap hadir sebagai rujukan informasi terpercaya di Kalbar dengan beralih bentuk menjadi Koran elektronik untuk menolak punah dan tetap juga menyediakan versi cetak untuk mengakomodir pembaca yang berumur lebih tua.
Sumber;
- Pontianakpost.Jawapost.com/ Menelusir Sejarah Seabad Penerbitan Pers di Kalbar/30 Sepember 2019
- Sapordi/ Teknis Penulisan Berita Feature Pada Media Onlie Pontianak Post/ IAIN Pontianak/2025