
Meriam Karbit adalah salah satu tradisi budaya khas masyarakat yang tinggal di pesisir sungai Kapuas Pontianak, Kalimantan Barat, terutama didaerah kelurahan benua melayu laut, kampung bansir, banjar serasan, parit mayor sampai tambelan sampit. berupa permainan meriam kayu raksasa yang disulut pada malam takbiran menyambut Idul Fitri di tepian Sungai Kapuas. Tradisi turun-temurun yang sarat gotong royong ini melambangkan sejarah berdirinya kota, mempererat silaturahmi, dan kini menjadi festival wisata andalan. Pada tahun 2016, tradisi meriam karbit ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Catatan sejarah berkembangnya tradisi meriam karbit memiliki relasi sejarah panjang dengan berdirinya Kesultanan Kadriyah Pontianak (kini
Kota Pontianak). Tradisi ini dipercaya dimulai oleh Sultan Syarif Abdurrahman, pendiri kota Pontianak, yang membunyikan meriam dari perahunya saat berlayar di tepian sungai Kapuas pada tahun 1776 masehi untuk mengusir hantu kuntilanak di area pembangunan Istana Kadriyah dan Masjid Jami’.
Demi menjaga kedaulatan kawasan maritim Kesultanan, menggunakan meriam setimbol (konstruk fisik berbahan dasar besi padat dan berhulu ledak) sebagai artileri perang yang ampuh mengusir segala macam ancaman dari
perompak (bajak laut cina) hingga digunakan mengusir “roh halus”-
Seiring kokohnya kedaulatan, meriam tetap eksis digunakan namun memiliki fungsi berbeda, seperti ; penanda waktu sholat, penanda awal dan akhir ramadhan, penentuan satu syawal (idulfitri) hingga sebagai simbol waktu kelahiran anggota keluarga baru kesultanan
Kini zaman telah berganti namun meriam tetap eksis tak lekang waktu. Meriam telah mengalami derivasi mulai dari konstruk fisik dan fungsi yang berbeda. Meriam setimbol bermetamorfosis yang kini dikenal menjadi meriam karbit (meriam berbahan dasar kayu balok, size panjang berbahan ledak karbit). Meriam karbit sangat ikonis, dimainkan hanya dimomen memasuki ramadhan hingga menjelang awal syawal. Dukungan pemerintah Kota Pontianak menjadikan momen ini sebagai ajang festival
dan objek wisata sungai, karena meriam karbit hanya dimainkan disepanjang pesisir sungai kapuas.
Meriam terbuat dari kayu gelondongan (seperti kayu mabang atau meranti) dengan panjang 5 hingga 6 meter dan diameter 50–70 cm. Karbit (kalsium karbida) dicampur air menghasilkan gas asetilena yang jika disulut menghasilkan dentuman keras.
Festival meriam karbit diselenggarakan di sepanjang tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Pada tahun 2026, terdapat ratusan meriam (baik kayu maupun besi/paralon) yang disiapkan warga untuk menyemarakkan malam Lebaran. Pada tahun 2025 dilaporkan ada 224 meriam karbit yang ditembakkan, sedangkan pada tahun 2026. Ada 229 meriam karbit yang ditembakkan atau bertambah 5 meriam karbit yang ditembakkan dibandingkan tahun sebelumnya.
sumber;
- Priska Talia Putri.2024. Makna Tradisi Meriam Karbit Dalam Menyambut Hari Raya Idul Fitri Di Kota Pontianak. Skrispi Sarjana Prodi Sejarah Peradaban Islam. UIN Prof KH Saifuddin Zuhri, Purwokerto.
- Noviansyah. dkk. 2022. Tradisi Meriam Karbit dan Robo Robo; Pelestarian Sejarah Ikonis Melayu Kalimantan Barat Dalam Pencapaia Maqashid Syariah. Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi dan Humaniora Dalam Pencapaian Maqashid Syariah
- Tawakkal, A. I. (2018). Alfitrah Iqbal Tawakkal. Jurnal Pendidikan Dan
Pembelajaran Khatulistiwa, 7(9), 1–14. - Wikiedia
- Antara. Meriam Karbit .2026