Sejarah Pasar Tradisional Di Pontianak

 Saat membutuhkan sesuatu barang maka kemana anda akan pergi ? pasti kepasar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pasar merupakan tempat orang berjual beli.  Dalam bahasa latin, pasar dapat ditelusuri melalui akar dari kata “mercatus”, yang bermakna berdagang atau tempat berdagang.

Secara sempit pasar dapat diartikan sebagai tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang atau jasa. Secara luas pasar merupakan proses dimana penjual dan pembeli saling berinteraksi untuk mendapatkan harga keseimbangan atau kesepakatan atas tingkat harga berdasarkan permintaan dan penawaran. Jika menggunakan pemahaman diatas, tidak perlu ada pertemuan antara penjual dan pembeli secara langsung, karena zaman sekarang transaksi  bisa dilakukan secara online.

Pasar dalam istilah Arab dikenal dengan nama “سوق” dapat dilafalkan dengan souq, suuq, suk, sooq, suq, dan memiliki bentuk plural yakni aswaaq (أسواق). Istilah ini merupakan deskripsi linguistik untuk kegiatan mengangkut barang ke suatu tempat yang telah disepakati untuk melakukan transaksi.

Ketika terdapat percakapan, seorang penjual akan “souq”, maka dapat dipahami bahwa orang tersebut akan menggiring hewan ternak untuk membawa barang-barang mereka ke pasar. Hal yang menarik adalah istilah “pasar/bazar” menurut Encyclopædia Britannica. Kata “pasar/bazar” merupakan padanan kata dari “souq” yang berasal dari masyarakat Persia Kuno (sekarang Iran) sebagaimana banyak dikisahkan pada cerita-cerita “1001 Malam”. Masyarakat Persia Kuno menyebutnya dengan kata “vāčar”, adapaun masyarakat modern menyebutnya dengan kata bāzār (John 2009), dan masyarakat Persia Tengah mengenalnya dengan Istilah wāzār.

Kawasan Pasar Pontianak memiliki riwayat panjang. Area perdagangan mulanya ditempatkan di sepanjang aliran Sungai Kapuas Kecil. Awal abad XX aktivitas perdagangan Pontianak marak dengan kegiatan ekspor impor.

Fasilitas utama dalam kawasan ini adalah pelabuhan dengan sarana pendukung seperti bangunan dan dermaga. Kompleks pelabuhan terletak di Fabriek Weg (Jalan Pabrik, sekarang Jalan Pak Kasih), terdapat kantor kepala pelabuhan, kantor imigrasi, kantor bea cukai, kantor notaris, kantor maskapai pelayaran KPM dan gudang perusahaan ekspor impor NV Borneo Sumatera Handel Maatschapiij (Borsumij).

Sebelah timur kompleks pelabuhan, di muka kompleks pemerintahan dan militer, terdapat gudang dan kantor Firma Geo Wehrij sejak 1925 dan NV Borsumij sejak 1917 serta Volkscrediet Bank yang berdiri sejak 1917.

Kedua perusahaan itu berdampingan dengan kompleks pasar yang diresmikan sebagai lembaga pasar dan dikelola pemerintah sejak 1919 yaitu lembaga Pasar Fonds. Kompleks pasar saat itu merupakan pasar sentral dan pasar permanen satu-satunya di Pontianak menjadi pusat distribusi dari berbagai komoditas.

Pemerintah kolonial membaginya ke dalam beberapa area sesuai komoditas. Pasar kain di bagian barat, ke timur di sisi Sungai Kapuas terdapat pasar ikan dan daging lalu pasar sayur. Selanjutnya deretan ruko juga terdapat rumah direktur pabrik batu bata

Timur kawasan pasar terdapat Komedie Weg (Jalan Hiburan, di jalan-jalan ini tersedia fasilitas hiburan, kini Jalan Mahakam) terdapat dua bioskop yaitu Orient Bioscoop dan Capitol Bioscoop. Di seberang dua bioskop ini masih di Voorstraat di muka pasar terdapat dua bioskop lain, Ng A Tje Bioscoop dan Borneo Bioscoop.

Selain bioskop terdapat pula Societet La Belle merupakan gedung perkumpulan semacam klub hiburan orang Eropa dan elit pribumi di Jalan Societet di sisi barat kompleks pasar.

Kompleks pasar juga dilengkapi terminal di belakang pasar kain dan muka pasar di Voorstraat.

Angkutan mobil umum (oplet) mulai aktif dioperasikan sejak 1920-an. Oplet ini berderet di Voorstraat sepanjang muka Pasar Pontianak menunggu penumpangnya. Bentuk dasar pasar berupa deretan toko dengan sistem pintu. Bangunan pasar dibangun kembali menggunakan batu, masyarakat menyebutnya rumah batu, beratap sirap.

Kelenteng adalah bagian dari Pasar Pontianak yang direnovasi menggunakan material batu pada 1912. Renovasi bangunan pasar dilakukan secara besar-besaran pada 1927 dan 1930, dilakukan pada lebih 100 toko dan pembangunan satu blok baru di area Pasar Tengah pada 1927-1928.

Renovasi Pasar Oeloe tidak kurang dari 250 ruko pada 1930. Pembangunan kembali ruko-ruko pasar diselenggarakan oleh Pasar Fonds bersama Platselijk Fonds dilaksanakan Roestenbarg seorang pemborong (aaunemer) Belanda.

Selain bangunan permanen, bentuk fisik Pasar Pontianak mencakup parit dan bangunan nonpermanen. Parit di Pasar Pontianak terdiri tiga parit, masing-masing Parit Pekong, Kanal Pintu Air dan Parit Besar.

Parit Besar berada di area inti (core area) Pasar Pontianak di antara area Pasar Tengah dan Pasar Oeloe. Kanal pintu air memisahkan antara area Pasar Tengah dengan Pasar Ilir.

Parit Pekong merupakan batas barat Pasar Pontianak, di mana Kanal Pintu Air dan Parit Pekong mengapit Pasar Ilir.

Bangunan nonpermanen di Pasar Pontianak didirikan antara deretan ruko. Bangunan non permanen berupa warung tenda diadakan sepanjang malam dengan atal kain kepar atau drill, harus sudah dibongkar setelah lewat tengah malam. Ini dikenal dengan sebutan pasar malam Pontianak. 

Ada beberapa pasar dikenal sebagai pusat ekonomi yang menjadi barometer harga dan kesediaan bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat seperti Pasar Flamboyan di Jalan Pahlawan, Pasar Mawar atau Pasar Central di Jalan HOS Cokroaminoto, Pasar Dahlia di kawasan Sungai Jawi dan Pasar Puring di Jalan Gusti Situt Mahmud Siantan, dan Pasar Kapuas Besar merupakan pusat perdagangan yang menjadi pendorong pembangunan dan peningkatan kegiatan ekonomi di Jalan-jalan sekitar pasar.

Dapat kita ambil contoh Pasar Flamboyan yang di Jalan Pahlawan yang keberadaannya meningkatkan aktivitas ekonomi di dua jalan sekitarnya yakni Jalan Gajahmada yang menjadi pusat kuliner warung kopi dan industri jasa perhotelan serta perbankan serta Jalan Tanjungpura yang menjadi pusat pertokoan.

Sumber :

Syafaruddin Usman/Pasar Pontianak Riwayatmu KIni/RRI/sudut Pandang/29 Oktober 2025

Konsep pasar/ jurnal eithes/  iain Kediri/volume 1/2025

Rahmat Gunawijaya/ Geliat Pembangunan Ekonomi Kota Pontianak Dari Waterfront City Menuju Smart City/ IAIN Press/2017

Leave a Reply