

Di tepian Sungai Kapuas, di sebuah lorong gang kecil bernama Hj. Salmah, berdiri diam sebuah rumah tua yang seolah menantang waktu. Usianya telah melampaui satu abad atau lebih dari 100 tahun umur manusia, namun kisah yang disimpannya justru semakin hidup dari hari ke hari. Inilah Rumah Budaya Kampung Caping, saksi bisu perjalanan panjang Kota Pontianak sejak tahun 1913 dimana tahun rumah ini dibangun.
Rumah panggung berbahan kayu belian ini dulunya milik Ibu Hajjah Salmah, seorang guru mengaji di daerah sini. Hajjah Salmah sendiri merupakan istri dari Haji Arief Bin Ismail seorang saudagar atau pedagang pengolah karet dan hasil bumi di kampung Bangka, Haji Arief juga juga salah satu pendiri Perguruan Islam tertua di Kota Pontianak yakni Perguruan Islamiyah yang sekarang menjadi Lembaga Pendidikan Islamiyah yang mengelola TK, SD, SMP dan SMA Islamiyah di Jalan Imam Bonjol Pontianak
Rumah panggung berbahan kayu belian tempat tinggal keluarga H. Arief Bin Ismail ini bukan sekadar bangunan tua tapi tempat anak anak belajar mengaji dan Ilmu Agama Islam.
Setelah Anak anak H. Arief Bin Ismail besar dan bekeluarga serta punya rumah masing masing, rumah keluarga H. Arief yang terakhir kali ditinggali Hajjah Salmah pada tahun 1938 rumah ini tak terurus bertahun tahun, Pada akhir tahun 2019, ahli waris menyerahkan bangunan bersejarah ini melalui proses hibah kepada Pemerintah Kota Pontianak. Bukan untuk dirobohkan, melainkan untuk dihidupkan kembali. Proses restorasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian, menjaga keaslian bentuk, struktur, dan material aslinya Karena menurut warga sekitar rumah ini punya nilai sejarah bahkan saksi bisu kebudayaan melayu yang ada di sekitar Sungai Kapuas pontianak ini.
Ketika aliran Sungai Kapuas masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, terutama jalur utama transportasi, ekonomi, dan interaksi sosial masyarakat. Dari beranda rumah inilah denyut kehidupan Pontianak tempo dulu mengalir, mengikuti irama pasang surut air sungai
Kayu ulin yang menyusun hampir seluruh bagian rumah masih kokoh hingga kini, membuktikan kearifan leluhur Kalimantan dalam memilih material yang mampu bertahan melawan waktu, air, dan cuaca. Arsitektur Melayu yang diusung rumah ini tak hanya indah, tetapi juga sarat makna: sebuah adaptasi cerdas terhadap lingkungan rawa yang dinamis
Kini, rumah tua di tepi Sungai Kapuas itu menjelma menjadi Rumah Budaya Kampung Caping, sebuah ruang pertemuan sejarah, budaya, dan generasi masa kini. Ia berfungsi sebagai pusat aktivitas kebudayaan, sarana edukasi sejarah, sekaligus destinasi wisata heritage yang mengingatkan kita bahwa Pontianak dibangun dari akar tradisi yang kuat.
Di tengah modernisasi kota, rumah ini berdiri tegak, seolah berbisik: Pontianak punya sejarah, dan sejarah itu masih bernapas hingga hari ini.
Sekarang lokasinya diberi nama Kampung Wisata Caping Pontianak terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara.
Sumber ;
- Dendy Ramahdan, DKK. Perguruan Tinggi Islamiyah Sebagai Lembaga Pendidikan Tertua di Kalimantan Barat.Al Fikri. Jurnal Studi dan Pendidikan Islam Volume 2 Nomor 2 Agustus 2019
- Rika Savitri dan Agus Ekomadyo. Genius Loci Pemukima Bansir Laut Di Kota Pontianak. Jurnal Tiarsi. Vol 1 Nomor 18 Tahun 2021
- https://sitimustiani.com/2023/10/rumah-melayu-cagar-budaya-wisata-kampung-caping-pontianak/10 Oktober 2013
- daily kalbar/rumah budaya kampung caping