Asal Usul Pemangkat Kota di Jalur Pantai Utara

 Jika kita ingin menuju Kabupaten Sambas, dari arah Singkawang melewati jalur pantai utara Provinsi Kalimantan Barat maka kita akan melalui kota yang cukup ramai yang disebut Pemangkat sebuah kota kecamatan di Wilayah Kabupaten Sambas yang berbatasan dengan Kota Singkawang

Menurut cerita zaman dulu, nama Pemangkat diambil dari nama orang yang pertama kali mendiami Pemangkat yaitu Pak Mangkat.  Cerita lainnya mengatakan bahwa nama Pemangkat diambil dari kata “angkat” atau “terangkat”,  karena kota Pemangkat pada zaman dahulu adalah lautan, kemudian lumpur pun naik atau terangkat membentuk daratan. 

Tidak ada yang pasti mengenai asal-usul nama Pemangkat, tetapi menurut sejarahnya pada zaman  Kesultanan Sambas, wilayah Pemangkat sekarang adalah tempat kongsi atau perkampungan para penambang emas dari Tiongkok.   Sehingga beberapa desa atau daerah di Pemangkat dinamai dalam bahasa Tionghoa, seperti Sinam, Sisai, Lonam, Tiansho, dan lain-lain. 

Kota Pemangkat merupakan Ibu Kota Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat , di wilayah ini cukup banyak berdiri klenteng atau Tai Pak Kung dalam bahasa hokkian, karena sebagian besar penduduknya adalah warga Tonghoa beragama Budha dan Konghucu akan tetapi mayoritas masyarakatnya adalah Suku Melayu Sambas dan beragama Islam.

Secara historis, Kota Pemangkat adalah salah satu wilayah utama dari Kongsi Cina pada zaman Kerajaan Sambas dan penjajahan Belanda. Kongsi Cina tersebut adalah Samtiaokiao (San-t’iao-kou) yang berpusat di Kota Pemangkat dengan wilayah usahanya terbentang dari Sungai Selakau dan Sungai Sambas (utara Monterado. Kongsi Cina Samtiaokiao merupakan salah satu kongsi cina yang besar dan kuat di Kalimantan Barat

Konon para pekerja tambang beretnis Tionghoa ini mampu menghasilkan emas lebih banyak dari para penambang emas pribumi, karena teknologi pertambangan dan organisasi pekerja yang mereka miliki. Di masa awal kedatangannya, para pekerja tambang ini mendapatkan pasokan bahan makanan dan aneka keperluan lain dari pemerintah kerajaan dengan harga yang sudah ditetapkan. Mereka dilarang untuk bergiat di bidang pertanian, memiliki senjata dan melakukan aktivitas ekspor-impor secara mandiri. Mereka juga diwajibkan untuk memberikan upeti, berupa emas, sebagai kompensasi atas izin pertambangan yang mereka kantongi dari pemerintah kerajaan.

Bukti keberadaan salah satu Kongsi Cina berada di Pemangkat adalah sebuah klenteng yang berada di sebuah bukit atau orang setempat menyebutnya sebgai Gunung Gajah Pemangkat. Kelenteng ini dapat di lihat dari tengah kota Pemangkat, tepatnya berhadapan langsung dengan Jalan Moh. Hambal Kota Pemangkat. Di dalam Klenteng ini terdapat bukti sejarah yaitu dua papan kayu persegi panjang, Kang Xi Tahun 25, berwarna hitam dengan tulisan Po Ngi Lai Min. Tulisan itu menggunakan tinta warna orange dan tulisan Fui Wo Wu Cing dengan tinta warna merah yang memiliki arti ‘selamanya melindungi masyarakat’. Tulisan berbahasa mandarin Kang Xi Tahun 25 itu menandakan papan tersebut dibuat pada masa Kaisar Kang Xi pada tahun 1686. Berarti telah berusia sekitar 325 tahun.

Ada juga lonceng di klenteng itu dan pada lonceng itu bertuliskan Kang Xi 26 yang berusia ratusan tahun. Lonceng yang berbentuk seperti genta berwarna kuning keemasan memuat banyak tulisan yang terukir di lonceng seberat lebih kurang 40 kg. Lonceng ini merupakan pemberian Bun Tie Po dan isterinya Chia Jun Kiau keluarga saudagar kaya asal Pemangkat pada waktu itu. Tulisan di lonceng tertera Kang Xi Tahun 26, artinya lonceng ini dibuat pada masa Kaisar Khang Xi Tahun 1687 atau berusia sekitar 326 Tahun.

Pada Era Penjajahan Belanda, Pemangkat adalah Benteng Pertahanan yang strategis dan merupakan Sub-distrik Belanda. Pada tahun 1923, sub-distrik (onderafdeeling) Pemangkat dibubarkan. Wilayahnya kemudian dibagi dua, sebagian untuk sub-distrik Sambas dan sebagian lagi untuk sub-distrik Singkawang .

Setelah era kemerdekaan Pemangkat menjadi wilayah administrasi Kabupaten Sambas dengan status kota Kecamatan dengan  luas 111,00 km² (atau sekitar 11.100 hektare). Merupakan wilayah Kabupaten Sambas yang cukup padat penduduknya juga dikenal memiliki objek wisata alam dan wisata religi sebagai berikut :

  1. Pantai Sinam
  2. Mesjid  Besar At Taqwa Pemangkat
  3. Pantai Tanjung Batu
  4. Vihara Tri Dharma  Bumi Raya Pemangkat

Sumber ;

  1. Dent Bagoez/kalbar history
  2. irwansahaja.blogspot.com/2014/08/sejarah-pemangkat
  3. Elintara Putri Isytar/2021/ Artikel Penelitian FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak/Asal Usul Pemangkat

Leave a Reply