

Dampak kebakaran hutan di Provinsi Kalimantan Barat bukan hanya rusaknya vegetasi hutan, hangusnya tanaman produktif termasuk kebun sawit dan tamanan buah hutan lainnya, tapi juga pada kesehatan masyarakat terutama balita dan orang tua, bahkan pada tanggal 3 sampai dengan 6 agustus 2026 Pemerintah Kota Pontianak mengeluarkan kebijakan membuat surat edaran belajar daring atau meniadakan pembelajaran tatap muka di sekolah di tingkat PAUD, TK hingga sekolah menengah pertama atau SMP sederajat,karena kabut asap yang mengkhawatirkan kesehatan anak anak peserta didik bahkan kebijakan ini berlanjut dari tgl 21 sampai dengan 26 Agustus 2026
Di Sektor tranportasi tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan juga mengganggu jadwal penerbangan yang menyebabkan delaynya lebih dari 20 penerbangan pesawat di awal bulan agustus menurut data dari Angkasa Pura.
Data kementerian Kehutanan menyebut Hingga Agustus 2026, di area Provinsi Kalimantan Barat mencatat kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terluas di Indonesia dengan total area terbakar mencapai lebih dari 38.000 hektare. Fenomena cuaca El Niño yang memicu kekeringan ekstrem dan keberadaan lahan gambut yang mudah terbakar menjadi faktor utama cepatnya perluasan api..
Luas Area Terbakar: Mencapai ±38.310 hektare pada semester pertama 2026, menempati peringkat pertama tertinggi di Indonesia. Jumlah Titik Panas (Hotspot): Terdeteksi belasan ribu titik sejak awal tahun, dengan ratusan hingga ribuan titik aktif yang fluktuatif dipantau BNPB di bulan Agustus. Wilayah Paling Rawan: Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang tercatat sebagai daerah dengan sebaran titik api terbanyak di Kalimantan Barat.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di semua provinsi di Kalimantan mengalami lonjakan jumlah titik api yang mengakibatkan pulau itu ‘dikepung’ kabut asap di beberapa wilayah. Sementara tim pemadam di lapangan masih kesulitan memadamkan api yang kerap muncul kembali setelah dipadamkan
Kebakaran hutan dan lahan merupakan suatu kejadian yang sering terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Kalimantan. Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab berkurangnya kualitas ekosistem alam, seperti kerusakan lahan hutan dan vegetasi, perubahan komposisi ekosistem hutan, fisiologi tanaman, serta gangguan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, sehingga kebakaran hutan di Kalimantan merupakan ancaman potensi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Bencana yang terjadi di musim kemarau menyebabkan kerusakan ekosistem dan kerugian aspek ekonomi, sosial dan budaya. Kebakaran hutan dapat menyebabkan berbagai kerugian serta kerusakan yang sangat besar terhadap lingkungan, ekonomi, dan sosial. Selain dampak negatif terhadap ekosistem hutan dan lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga dapat berdampak pada kesehatan makhluk hidup, maka dari itu perlu dilakukan pengendalian kebakaran
Bahkan wartawan senior sekaligus Dosen dari UNU Kalbar Rosadi Jamani menulis soal cerita kebakaran hutan di Kalimantan Barat telah merengut korban jiwa sebagaimana penulis rangkum dan ceritakan kembali sebagai berikut :
Ketika Presiden Prabowo Datang Melihat Lokasi Kebakaran Hutan di Arang Limbung Kabupaten Kubu Raya Kemudian Pergi, tapi Titik Api seperti Tak Mau Dipadamkan


Perlu diketahui, pada pagi hari, jarak pandang di wilayah Kota Pontianak hingga Kabupaten Kubu Raya tinggal 400–800 meter. Sebanyak 21 penerbangan di Bandara Supadio Pontianak tertunda pada 18–21 Agustus 2026. Pesawat seperti ikut trauma menembus kabut lebih pekat dari janji penanganan.
Pada tanggal 22 Agustus, Presiden Prabowo Subianto meninjau titik api di Desa Limbung, Kubu Raya, tanpa masker. Laporan resmi mencatat 198 hotspot tingkat kepercayaan tinggi, 3.100 tingkat menengah, dan 406 tingkat rendah dalam 24 jam. Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara menjadi wilayah paling ganas.
Api seolah berkata, “Selamat datang, Pak Presiden. Saya sudah menunggu.”
Tiga batalion TNI, sekitar 1.500 personel dari luar Kalimantan, dikerahkan. Helikopter water bombing ditambah. Operasi modifikasi cuaca kembali dijanjikan.
Semua bergerak cepat. Tapi api gambut punya filosofi sendiri, kecil di permukaan, besar penderitaannya. Yang terbakar bukan cuma hutan. Ada manusia yang ikut menjadi abu.
Taufik Hidayat, 26 tahun, ditemukan hangus di Jalan Poros Sungai Pelang–Tumbang Titi, Ketapang. Ia nekat menerobos asap saat pulang kerja. Kekurangan oksigen, terjatuh, lalu terbakar di sisi jalan yang dikepung api.
Ada rumah yang menunggu. Ada keluarga yang menunggu. Tetapi jalan pulang hari itu berubah menjadi jalan terakhir.
Di Rasau Jaya, Kubu Raya, Kasim, 65 tahun, penjaga kebun, juga meninggal setelah ikut membantu pemadaman. Ia ditemukan tertelungkup dan diduga mengalami serangan jantung di tengah kepulan asap.
Ia datang membantu memadamkan api. Justru napasnya yang padam.
Sejak Januari 2026, lebih dari 151 ribu kasus ISPA tercatat di Kalimantan Barat. Di Ketapang, kasus meningkat dari 587 menjadi 673 dalam tiga pekan. Secara lebih luas, lebih dari tiga juta orang di tujuh provinsi terpapar langsung, sementara ISPA melonjak hingga 78 persen di beberapa wilayah.
Asap ternyata tidak mengenal paspor, apalagi KTP. Di Sarawak, pemerintah Malaysia sampai menutup sementara hampir 600 sekolah pada 20–21 Agustus 2026. Sekitar 509 SD dan 82 sekolah menengah. Hampir 200.000 siswa terdampak, 107.590 siswa SD dan 89.733 siswa SMP/SMA.
Itu merupakan penutupan kedua pada Agustus akibat kabut asap. Pembelajaran dialihkan ke rumah dan daring demi melindungi kesehatan anak-anak. Api mungkin berkobar di Kalbar. Tetapi anak-anak Sarawak ikut membayar tagihannya.
Batas negara ada di peta. Asap tidak peduli. Puskesmas dan rumah sakit dibuka 24 jam. Posko bencana asap didirikan. Oksigen dan masker disiapkan. Fasilitas kesehatan berubah menjadi benteng terakhir antara hidup dan sesak napas.
Rumah warga mungkin tidak ludes massal. Kendaraan pun relatif aman. Namun asap jauh lebih licik. Ia tidak perlu membakar rumah untuk menyiksa penghuninya. Cukup masuk lewat hidung. Lalu paru-paru yang membayar.
Anak-anak belajar daring, penerbangan tertunda, warga diminta berdiam diri, sementara semua menunggu hujan. Dalam kaidah fikih ada prinsip dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, mencegah kerusakan harus didahulukan dari menarik kemaslahatan. Sayangnya, kaidah sering terdengar indah di mimbar, tetapi terasa terlambat ketika asap sudah masuk ruang tamu.
Isu konglomerat asal Banjarmasin Kalimantan Selatan, sebut saja Haji Isam sebagai koordinator penanganan karhutla sempat viral, lalu dibantah Istana. Semua pihak diminta membantu, tetapi bukan sebagai koordinator. Kabut informasi datang dan pergi. Kabut asap tetap tinggal.
Luas lahan terbakar di Kalbar sudah mencapai puluhan ribu hektare. Gambut terbakar sedikit, asapnya bisa seperti produksi pabrik.
Kalbar kaya hutan, kaya gambut, kaya sumber daya. Tetapi hari ini ada satu kekayaan yang terasa paling mahal, udara bersih. Warga tidak meminta istana. Tidak meminta karpet merah. Mereka hanya meminta sesuatu mestinya gratis. Tolong, beri kami napas. Di tanah katanya kaya itu, warga akhirnya hanya meminta sesuatu paling sederhana kepada langit, tolong, beri kami napas.
Sumber;
- Sipongi Kementerian Kehutanan RI Agustus 2026
- Fb Rosadi Jamani Agustus 2026
- Berita Karhutla Kompas.com Agustus 2026
- Rensponsivekalbar.com

