

Tradisi Robo-robo telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat terutama dari Keturunan etnis Bugis Sulawesi yang juga dilestarikan oleh sebagian besar etnis melayu di Pontianak . Setiap tahun, ribuan warga berkumpul mengikuti rangkaian ritual, doa bersama, hingga makan saprahan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Kesultanan Mempawah.
Sebagian masyarakat Kabupaten Mempawah, khususnya orang-orang Mempawah, robo’-robo’ identik dengan pembacaan doa selamat, pembacaan doa agar terhindar dari marabahaya dan malapetaka, serta napak tilas masuknya Opu Daeng Manambon ke Mempawah. Robo’-robo’ juga merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh raja-raja maupun anak keturunan raja Istana Amantubillah Mempawah serta masyarakat terutama di daerah Mempawah, Sungai Kakap dan Jeruju Besar dulu hingga saat ini.
Robo’-robo’ berasal dari kata Rabu, karena itulah acara ini dilaksanakan pada hari rabu terakhir di bulan Syafar setiap tahun. Upacara robo’-robo’ dilaksanakan pada hari rabu terakhir di bulan Syafar ini dikarenakan berlatar belakang dari sejarah Nabi Muhammad SAW, yang hampir naas di bulan Syafar dan puncaknya pada hari selasa (minggu keempat). Selain itu, cucu Nabi Muhammad SAW Hasan dan Husein meninggal dunia pada bulan Syafar. Dan Nabi Muhammad SAW selamat dari malapetaka pada hari rabu. Berkaitan dengan itu, maka dibuatlah acara tolak bala dan selamatan yang hingga kini masih dilaksanakan oleh masyarakat Mempawah sebagai upacara robo’-robo’ yang mengandung makna Selamatan dan membaca doa tolak bala.
Robo’-robo’ ini tidak terlepas dari kebudayaan, adat istiadat dan agama. Dari segi agama, ini berlatar belakang sejarah Nabi Muhammad SAW yang mengembangkan ajaran agama Islam. Sedangkan dari sisi adat istiadat dan budaya, bahwa yang pertama kali menyelenggarakan acara ini yaitu Panembahan Kerajaan Mempawah yang telah memeluk agama Islam.
Pada awalnya acara ini digelar untuk menyambut Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan (Tanjungpura) di Kabupaten Kayong Utara ke Kerajaan Mempawah yang dahulu bernama Panembahan Senggaok di Kabupaten Pontianak pada tahun 1737 M atau 1448 H. Opu Daeng Menambon adalah keturunan Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Opu Daeng Menambon datang ke Mempawah untuk menyebarkan agama Islam. Selain menyebarkan agama Islam, Opu Daeng Menambon juga meneruskan tahta kerajaan Panembahan Senggaok yang pada saat itu dirangkap oleh sultan di Kerajaan Matan Tanjungpura.
Melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun terharu dan berinisiatif memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robo-robo,yang setiap tahun rutin dilakukan warga Mempawah begitu pula warga Desa Jeruju Besar dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Di era modern, robo robo bukan sekedar acara selamatan biasa, peringatan napak tilas keluarga besar Kerajaan Amantubillah Pontianak, tapi sudah menjadi festival budaya di Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kubu Raya dan Pontianak yang menghadirkan wisata religi, dan festival saprahan atau makan bersama dengan duduk beralaskan tikar dengan menyajikan makanan khas tradisioal bugis dan melayu yang diikuti oleh ribuan orang sehingga memberi dampak bagi perekonomian masyarakat sekaligus mempererat jalinan silahturahmi warga dan pemimpin daerahnya selain hari besar keagamaan lainnya.
Sumber ;
- https://pontianakpost.jawapos.com/mempawah/2607310049
- Desajerujurbesar.id
- Kantor berita antar/2024
- Berkatnews.tv/2025
