
Pada Awal abad 20 lalu mulai muncul semangat kebangsaan di daerah Kalimantan Barat atau sekitar tahun 1920 an masehi di Kepulauan Nusantara ,daerah Landak dikenal sebagai penghasil komoditas intan berlian dan emas. Ini menciptakan hubungan dagang antar pulau antara penghasil emas dan perak dengan para pedagang di Pulau Jawa yang kebetulan sebagian besar aktif dalam Sarekat Islam
Interaksi antar personal ini berkembang dalam sebuah lembaga
Tahun 1916 dibentuk cabang Sarekat Islam di Ngabang dipimpin HM Nasri, M Hambal, Achmad Sood dan Gusti Situt Mahmud. Pada Tahun 1919 dari Ngabang SI berkembang di Ketapang dipimpin Gusti Hamzah, di Pontianak dipimpin HM Rais GA Rahman
Pada tahun 1921 dilaksanakan musyawarah cabang SI Kalimantan Barat di Ngabang Tampil sejumlah tokoh terkemuka antara lain Achmad Marzuki (abang kandung Almarhumah nenek saya) seorang jurnalis, Djeranding A Rahman dan M Sohor (adik ipar Achmad Marzuki).
Adanya penyusupan Partai Komunis Hindia pimpinan Adolf Baar dan Dekker di dalam SI melalui Semaun, Alimin dan Darsono di Semarang, mengakibatkan SI terpecah dua
Perpecahan di Kalimantan Barat tidak sempat terjadiNamun pembekuan SI oleh Residen Kalimantan Barat mengakibatkan para tokoh SI memilih non-aktif namun melakukan propaganda pemboikotan terhadap berbagai kebijakan kolonial Belanda
Tahun 1926 para tokoh SI Kalimantan Barat menyatakan mendukung gerakan ulama Banten, bersimpati dengan gerakan SI Sawahlunto Sumatera dan gerakan Prambanan di pulau Jawa
Awal Oktober 1926 berdasarkan laporan dari para kaki tangan kolonial, residen West Borneo memerintahkan menangkap dan menghukum pengasingan terhadap 10 tokoh SI Kalimantan Barat dan dihukum buang seumur hidup di Boven Digul Papua
Sepuluh tokoh ini masing-masing
1. Gusti Sulung Lelanang (Ngabang)
2. Gusti Situt Mahmud (Ngabang)
3. Gusti Djohan Idrus (Ngabang)
4. Achmad Sood (Ngabang)
5. Achmad Marzuki (Ngabang)
6. Mohamad Sohor (Ngabang)
7. Mohamad Hambal (Ngabang)
8. Gusti Hamzah (Ketapang)
9. HM Rais HA Rahman (Pontianak)
10. Djeranding A Rahman (Melapi Putussibau Kapuas Hulu)
Kesepuluh tokoh ini mengalami penderitaan berat selama berada di pengasingan di tengah rimba Papua yang ganas
Mereka dihukum di Boven Digul tahun 1926 hingga dipulangkan kembali ke Kalimantan Barat pada akhir tahun 1939
Akibat pengasingan ini Achmad Sood dan Mohammad Hambal mengalami sakit parah dan meninggal dunia sepulang dari Boven Digul
Sementara itu Gusti Sulung Lelanang bersama Gusti Hamzah dan HM Rais HA Rahman sejak tahun 1939 meneruskan perjuangan politis tanpa kenal rasa jera dan takut dengan penderitaan selama di pengasingan dengan mengajak Ya’ M Sabran tokoh dari Ngabang yang aktif di Betawi untuk bergerak secara organisasi
Namun nasib berkata lain Di saat balatentara Jepang berkuasa para tokoh exs Digulis ini dihabisi di Mandor tahun 1944, masing-masing Gusti Sulung Lelanang, Gusti Situt Mahmud, Gusti Hamzah, Ya’ M Sabran, HM Rais HA Rahman, Achmad Marzuki, Mohamad Sohor telah dihabisi Jepang.
Sedangkan Gusti Djohan Idrus tahun 1939 sepulang dari Digul menetap di Australia lalu ke Malang Jawa Timur, Djeranding A Rahman menjadi penerjemah tentara Jepang di Aub Sibu Malaysia dan Achmad Sood serta Mohamad Hambal lebih dulu meninggal dunia tahun 1939 dan 1940
Untuk mengenang dan menghormati ketokohan 10 Digulis dan 1 tokoh nasionalis (Ya’ M Sabran) pada tahun 1984 digagas Monumen 11 Perintis Kemerdekaan Kalimantan Barat atau Monumen 11 Bambu Runcing yang belakangan kerap disebut Tugu Digulis (untuk menyebut 10 tokoh ini exs interniran Boven Digul) di Jalan Ahmad Yani Pontianak
Presiden RI pada tahun 1960 dan 1964 melalui Menteri Sosial RI telah menetapkan 11 tokoh ini sebagai Pejuang Perintis Kemerdekaan RI dari Kalimantan Barat
Sumber :
- Sejarahwan Syarafuddin Daeng Usman
- Kantor Berita ANTARA Tahun 2024
